Kebisingan di metropolitan dan pemadaman listrik di pedalaman

Pukul 17.00 wib pulang teng saya langsung tancap gas, dengan tujuan rumah kakak di tangerang. Ada sesuatu hal yang mesti aku sampaikan langsung, jadi saya harus pergi kesana. Selepas perempatan kuningan di sepanjang jalan gatot subroto disitulah aku mulai merasa salah. Jalanan yang kata teman biasanya lewat situ lalu lintas tidak macet malahan macet luar bisa. Tangan kiri saya mesti menarik, menahan dan melepas pedal kopling berulang-ulang. Pegal sekali, akhirnya sampai perempatan semanggi saya langsung lajukan motor saya belok ke arah blok M dan saya mengurungkan niat untuk ke tangerang. Tak kebayang sampai jam berapa saya harus melalui kemacetan si slipi, grogol, pesing, cengkareng, kalideres dan tangerang sendiri.

Berputar2 di daerah jakarta selatan akhirnya saya sampai rumah jam setengah tujuh. Satu setengah jam terpakai untuk hal yang saya rasa bodoh sekali.

Selepas shalat maghrib saya jadi teringat perdebatan saya dengan sahabat FB di lampung sana. Saya jadi berpikir, andaikan ini lalu lintas lampung tentunya aku akan sangat mudah mencapai tangerang yang tentunya jalanannya tidak akan pernah macet, walaupun mungkin di lampung sendiri jalanannya agak rusak, tapi aku merasa di lampung tidak akan pernah semacet jakarta.

Kalau di telaah lebih lanjut hidup di jakarta yang penuh dengan fasilitas lengkap seperti dunia hiburan, air, listrik dan aneka makanan tentu jakarta adalah tempat yang paling di dambakan semua insan. Namun di balik itu semua warga metropolis sepertinya rata2 mempunyai tingkat ke-stress-an yang lebih tinggi dari warga lainnya. Dapat dilihat di pagi sampai pagi kembali yang selalu terpolusi oleh polusi suara, tingkat tekanan kerja yang sangat tinggi, persaingan, kemacetan, dan style. Semuanya membutuhkan ekses yang lebih dari warga metropolitan. Lain halnya dengan warga di pedesaan. Hati mereka senantiasa datar, tidak ngoyo dalam mencari uang dan terkesan santai menjalani hidup ini.

Waktu kecil ketika masih tinggal di desa, dulu kalau sore menjelang maghrib saya sering main ke pematang sawah, mendengarkan suara kodok dan jangkrik bersahutan. Melihat sampai arah jauh hanyalah sawah yang membentang. Sangat damai. Merasakan sejuknya udara di pagi hari, memetik hasil buah dari ladang sendiri dan banyak hal yang semua itu mustahil ada di jakarta ini.

Tapi memang, tinggal di pedalaman juga sering merasa kesal sendiri, bilamana melihat pembangunan yang begitu melesat di ibukota sementara di pedalaman seperti raut muka wajah desa tidak berubah dari tahun ke tahun. Terasa timpang sekali. Semua energi baik itu batu bara, minyak bumi dan gas bumi yang semuanya dieksplorasi di luar jawa peruntukannya hanyalah untuk memenuhi kebutuhan energi di pulau jawa khususnya ibukota, namun di daerah sendiri pedamadan listrik setiap hari pasti terjadi. Sungguh tidak adil rasanya. Sangat ironi melihat semua ini terjadi. Pemerintah pusat sepertinya mulai harus memikirkan ini semua.

Jakarta, kota fasilitas dan kota yang sangat sibuk tentunya membutuhkan banyak infrastruktur yang memadai. Kota yang sangat membutuhkan pasokan energi listrik yang sangat tinggi, air bersih dan pasokan buah, makanan dan minuman. Jakarta tempat yang paling banyak fasilitas sekaligus tempat yang paling keras untuk ditinggali, banyak tuntutan, banyak keserakan disini dan menjadi barometer bagi perkembangan kota2 besar lainnya di indonesia.

One thought on “Kebisingan di metropolitan dan pemadaman listrik di pedalaman

  1. wah teman saya tulisan2 bagus ya… sekali-sekali kirim ke kompas ato tempo buat ngisi artikel lepas di media2, lumayan tuh buat tambahan uang bulanan walaupun duit lo dari pak CT dah banyak paling ga lo dah mengaktualisasikan hobi menulis lo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s