Hati-hati pengguna kartu kredit yang sering gestun

Belum lama ini bank indonesia selaku pemegang otoritas perbankan di indonesia memberlakukan peraturan baru tentang penggunaan kartu kredit untuk gesek tunai (gestun) di merchant-merchant yang melakukan aktifitas illegal tersebut.

Pada intinya gestun adalah dilarang, karena kartu kredit sendiri dikeluarkan oleh pihak bank adalah sebagai alat pembayaran, bukanlah alat untuk berhutang.  Maka penggunaan kartu kredit untuk gestun sekarang telah dilarang.

Semua merchant dan kartu kredit yang kerap melakukan aktifitas gestun itu, semuanya akan dibekukan. Kartu kredit tidak akan dapat dipakai kembali dan begitu pula untuk merchant yang bersangkutan. Mesin edisi tidak dapat dipakai untuk traksaksi elektronik-nya kembali karena sudah di cancel dari bank penyedia mesin edisi.

49 gagasan untuk “Hati-hati pengguna kartu kredit yang sering gestun

  1. nice info ty….

    gestun ma pembayaran cc bukan sama aja sebetulnya, sama2 ngutang bukan?
    bedanya yg satu berupa cash satunya lagi berupa barang

    • Tentu saja beda. Gestun akan merugikan pihak bank, karena kebanyakan gestun akan dipakai untuk melakukan pembayaran kembali. Begitu berulang seterusnya. Tujuannya yaitu supaya kartu masih dalam keadaan current, dan tidak terdaftar di daftar SID BI sebagai nasabah yang bermasalah.

      • Bukan merugikan bank, hanya saja untung bank menjadi berkurang. Dengan adanya gestun NPL bank akan menjadi kecil karena pemegang kartu cukup mengeluarkan 2,5% dari total tagihan saja dan sudah tidak dikenakan bunga bank plus mendapat point reward. Setau saya bank hanya iri kepada pemain gestun karena profitnya sebagian diambil oleh merchant gestun.

      • Dear mas saka

        Kog NPL. NPL kan non performing loan. NPL adalah perbandingan kredit bermasalah dengan total kredit. Apa mungkin maksud mas adalah profit yang di dapat dari fee. Kalau itu yang dimaksud adalah benar.

        Dengan praktik gestun jelas bank akan dirugikan dari sisi selisih bunga, dan cash advance fee-nya.

  2. Selama pihak Bank masih mengenakan bunga yang lebih tinggi dalam transaksi cash advance di atm Bank di bandingkan dengan bunga belanja…atas nama kepentingan bisnis…. merchant2 gestun akan tetap bermunculan…ingat hukum pasar dimana ada permintaan pasti ada penawaran….dengan adanya pelarangan ini pihak merchant suspec gestun akan lebih protektif/tertutup dengan acquarer Bank

  3. Perbedaan bunga retail dan cash advance sebenarnya tidaklah terlalu timpang, rata2 bank2 di indonesia 3,5% untuk retail dan 4% untuk cash advance, artinya hanya berbeda 0,5%. Sedangkan di setiap traksaksi gesek tunai di merchant MDR yang sedianya menjadi tanggungan toko malah dibebankan ke pemegang kartu, sehingga tiap kali melakukan traksaksi pastilah dikenakan biaya administrasi yang besarnya malahan mencapai 3%-5%. Sungguh potongan yang sangat besar.

    Alangkah bijaknya bila pemakaian kartu kredit hanya memang diperuntukkan traksaksi retail di merchant dan melakukan pembayaran sebelum jatuh tempo.

    ^-^

    • Pendapat anda benar, akan tetapi fenomena gestun itu sendiri telah lama berlangsung dan sebagian card holder telah terbiasa ke gestun merchant ketimbang keATM..
      Ada beberapa hal yang menyebabkan card holder lebih memilih gestun merchant dari pada keATM:
      1. Cash Advance keATM dikenakan biaya adm rata2 50 rb/transaksi.
      2. Dana yang dapat diambil di ATM hanya 20%.
      3. Penghitungan bunga yang dibebankan ke CH yang Cash Advance diATM berbeda dengan yang gestun dimerchant.
      4. Sebagian CH membayar tagihan dengan minum payment tidak full payment.
      5. Cash Advance diATM memerlukan PIN untuk proses transaksi.

      Yang menjadi pertanyaan:
      1. Bagaimana cara Bank (issuer & acquire) menghilangkan merhant gestun dengan cara yang efektif.
      2. Bagaimana cara Bank (issuer & acquire) merubah paradigma CH yang selama ini telah terbiasa gestun dimerchant menjadi terbiasa Cash Advance diATM

  4. Waduh mas, yang reply lebih pintar nih dari penulisnya. Coba jawab deh.

    Semenjak diberlakukannya peraturan Bank Indonesia yang mengikat ke seluruh card center di bank2 di indonesia perihal gestun ini ada beberapa hal yang memang telah dilakukan oleh bank issuer dan acquirer yaitu sebagai berikut.

    1. Issuer. Menutup semua kartu yang terindikasi melakukan transaksi gestun, yaitu yang memiliki pola2 tertentu dalam transaksi2nya yang dijadikan parameter untuk penarikan data. Pola2 tersebut diantaranya yaitu melakukan traksaksi hanya di merchant2 yang itu2 aja dan melakukan pembayaran dalam jumlah yang relatif sama dengan jumlah transaksi terakhirnya. Memang selama ini masih dapat dibilang tidak begitu efektif, karena penutupan kartu hanya di tingkat kartu bukan di tingkat customer, dan antara bank yang satu dengan bank yang lain tidak ada kerjasama untuk saling koordinasi berbagi informasi untuk menginformasikan indikasi kartu yang sering gestun ke bank lain seperti halnya SID yang ditampung oleh BI.

    2. Acquirer. Merchant2 yang terindikasi sering melakukan gestun akan segera ditutup sehingga mereka tidak dapat lagi melakukan traksaksi, meskipun traksaksi yang dilakukannya adalah murni traksaksi retail. Merchant ini akan dimasukkan ke dalam daftar blacklist dan tidak akan dapat memohon kepada bank untuk menaruhkan mesin edisinya kembali di merchant tersebut.

    Itu beberapa hal yang saya ketahui. Yang tentunya sangat jauh sepertinya ya dengan yang diharapkan dari pertanyaan saudara :-P

    Memang cash advance melalui cabang ataupun melalui ATM sangatlah merugikan bagi cardholder. Selain bunga yang tercatat harian, tarik tunaipun akan dikenakan biaya administrasi yang cukup besar yaitu 4% dari traksaksi atau minimal Rp 50.000. Hindari apa itu yang disebut cash advance. Selalulah bertraksaksi yang benar dengan kartu kredit anda. Lakukan setiap pembayaran dilakukan sebelum jatuh tempo. Pergunakan/manfaatkan selaku kartu kredit di merchant2 yang melakukan kerjasama dengan issuer, kadang bisa dapat potongan, spesial rate hingga 0%, dan anda akan mendapatkan point reward yang dapat ditukarkan dengan hadiah2 yang menarik.

    Tutuplah dan lunasi kartu anda, dikala anda benar2 mengalami permasalahan financial seperti PHK, dan belajar selalu untuk menjadi lebih bijak

    ^-^

    • Makasih banyak Mas atas jawabannya…cukup memuaskan…tapi ada sedikit yang menjadi kegalawan dari sebuah pertanyaan yang kiranya Mas mau untuk menjawabnya..
      Jika dilihat dari sudut aspek bisnis dalam hal ini bisnis merchant (acquirer) merchant gestun merupakan penyumbang fee yang cukup besar bagi Acquirer..anggaplah ada aqcuirer (Bank B) yang benar2 berkomitmen menjalankan perintah dari PBI No.11 th 2009, merchant2 gestun yang menjadi merchant dari Bank B (misalnya) semuanya di non-aktifkan, 1. Apakah acquirer (Bank Lainnnya) mau menon aktifkan merchant2nya juga (merchant gestun)?, bagaimana kalo Bank Lainnya tidak menutup merchant gestunnya padahal Bank tersebut telah mengetahui tentang PBI No. 11 th 2009?, 2. Jika merchant ditutup maka ia akan dimasukan ke dalam daftar blacklist, apakah daftar blacklist yang Mas sebutkan diatas sama seperti SID BI ketika merchant tersebut ditutup oleh Bank B (misalnya) karena gestun apakah acquirer lainnya mengetahui hal tersebut dan acquirer tersebut menolak permohonan dari merchant yang telah ditutup oleh Bank B?…
      sebelumnya saya ucapkan terima kasih…ini pertanyaan terakhir Mas…engga nambah lagi…
      ^___^

  5. Cukup pelik juga ya.

    Sebenarnya dalam setiap transaksi, pun itu benar transaksi retail murni acquirer rata2 hanya mendapatkan fee yang cukup kecil, dimana fee tersebut di dapat dari selisih merchant discount rate dikurangi dengan interchange fee yaitu rata2 acquirer hanya mendapatkan 0,1% sementara issuer memperoleh 1,7% dari visa.

    Jelas kalau dari aspek bisnis sisi issuer-lah yang beruntung dengan 1,7%-nya dibandingkan dengan acquirer yang hanya memperoleh 0,1% sebagai pengganti ongkos kertas mesin edisi.

    PBI tersebut tentunya mengikat ke semua perbankan indonesia baik itu BUMN, lokal maupun asing dan harus segera dilakukan untuk memperoleh traksaksi2 yang sehat dari pemakaian kartu kredit di indonesia.

    Pada dasarnya bank mengeluarkan mesin edisi di merchant sangatlah kecil keuntungannya, kalau transaksi2 yang dilakukan adalah berupa traksaksi retail. Namun disana bilamana bank dapat melakukan variasi dari setiap transaksi retailnya, misalkan easypay di citybank, mandiri powerbuy di mandiri, megapay di bank mega, maka bank dapat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi tentunya dengan menaikkan merchat discount rate yang akan menjadi tanggungan dari merchant. Sisi keuntungan dari pihak merchant sendiri adalah volume traksaksinya pasti akan meningkat karena kemudahan bertransaksi di merchant yang secara otomatis akan dirubah menjadi cicilan.

    Demikian ^-^

  6. oke lah kalau begitu..2x
    thanks ya om….atas jawabannya…ane berharap semua acquirer dapat komit menjalankan PBI no.11 th 2009, Jangan sampai hanya 1 atau 2 acquirer saja yang menjalankan PBI tsb..sedangkan acquirer yang lainnya egp…
    Semoga Semuanya Akan Menjadi Lebih Baik….Amin

  7. pertama yg bilang bedanya sedikit persenannya siapa?
    saya bisa kasi 2,3 persen untuk tarik tunai, dan diatas 60 juta bisa 2,2 persen…. tidak ada cash advance
    pelunasan kartu kredit saya bisa lunasi dengan 2,5 persen, sementara bunga bank 3 koma sampai 4 persen
    kedua, saya bingung sama bank, benar benar bingung… mereka promosi kartu kredit kaya orang gila.. nah kalo bisa dipakai buat transaksi dan kadang berani memberii limit yang besar, tapi tidak mau digunakan buat gesek tunai. itu bodohh, sangat amat bodoh.. istilahnya ya.. saya beri seseorang uang, tapi uang saya cuma boleh digunakan untuk hal2 tertentu saja, bahhhh mending ga usah dikasi uang.. Intinya adalah Bank memberikan kartu kredit dan menjadi hak nasabah untuk menggunakannya demi kepentigan apapun.. yg bank harus pusing adalah.. pas jatuh tempo dibayar apa tidak? itu saja. selebihnya bukan urusan bank.. kalo urusan gestun dipusingin saran saya: tidak usah menjadi issuer kartu kredit… sebenarnya seperti ini: Bank itu kalah bersaing dengan merchant merchant merchant gestun.. kalah bersaing dalam artian.. kalah di bunga tarik tunai.. nah karena kalah bersaing, bukannya memikirkan cara meghadapinya, eh malah bisnis orang( merchant gestun di obrak abrik). dilarang dan sebagainya.”: Saran saya: rangkullah merchant merchant gestun, ambil fee lebih dari mereka, sehingga satu sama lain saling menguntungkan…

    Bagi yang belum benar2 mengerti manfaat gestun, jangsan termakan propaganda bank.. Saya sudah membantu seorang dokter sehingga klinik anak yang dibangunnya telah beroperasi 2 bulan lalu( modalnya dari gestun)
    Saya sudah membantu bisnis seorang ibu yang diambang kebangkrutan, dengan gestun beliau dapat tambahan dana dan bisnisnya beropersai dengan baik kembali

    Intinya begini, bank yang melarang gestun adalah bank yang kekurangan modal, bank yang bodoh karena tidak bisa bersaing dengan merchant gestun, dan bank yang akan segera ditinggalkan oleh card holder percayalah…

    kartu kredit adalah kartu hutang, jadi intinya ketika saya misalnya memberikan hutang sebsar 10 juta misalnya kepada si A, dan nanti akhir bulan si A harus membayar ( apakah saya perlu pusing, itu sepuluh juta mau diapakan sama si A?) mau dipakai buat modal kek, ,mau dipakai buat belanja kek, investasi kek biar jadi uang lagi, bukan urusan saya,yang saya harus pusing, akhir bulan dia bayar apa tidak itu saja.. dia bayar dengan hutang ke siapa kek, itu bukan urusan saya juga.
    nah sekarang baru tau kan bank membuat propaganda karena mereka kalah bersain, bukan karena gestun merugikan.. toh bank dapat bagian kok.. visa master atau amex pun dapat bagian… NOBODY LOSE IN THIS BUSINESS.. yang ada bank yg ngotot biar atmnya dipakai buat tarik tunai kartu kredit… ABSURD

    • ini masalah resiko, bank memberi bunga sekian persen untuk resiko pembelian barang, dan bunga sekian persen untuk pengambilan tunai, ini sah2 saja karena resikonya memang berbeda. resiko gagal bayar beli barang lebih kecil daripda resiko gagal bayar tarik tunai. pakai logika sederhana, tarik tunai = dana dipakai usaha, bisa 100% amblas. beli barang = gak bisa bayar barang masih ada dan tinggal dijual, betul gak?

  8. Mas risky

    Memang begitu siy, sebenarnya tidak satupun yang dirugikan dari transaksi gestun ini. Keempatnya baik itu Cardholder, acquirer, issuer dan merchant sama2 saling mengambil keuntungan. Saya pribadipun sebenarnya mempertanyakan kenapa langkah pelarangan gestun ini diambil oleh Bank Indonesia.

    Sesuai literatur yang saya baca, memang ada baiknya bank indonesia tidak melarang aktivitas ini. Namun perlu diberi batasan, dalam artian tidak semua merchant diperbolehkan melakukan transaksi ini. Bank indonesia dapat membuat atau menunjuk suatu badan yang memang difungsikan untuk melakukan transaksi ini. Badan itu nantinya akan menampung semua aktivitas traksaksi gestun, dimana piutang tersebut nantinya akan dapat diberdayakan untuk memberikan kredit kembali kepada masyarakat.

    Pasti banyak yang membutuhkan, baik untuk kredit konsumsi ataupun untuk kredit comercial seperti UMKM.

    Bank indonesia ada baiknya lebih berkonsentrasi pada pelarangn surcharge, yaitu penambahan beban biaya pada cardholder pada saat traksaksi dengan alasan untuk menutup kerugian dari MDR. Karena sesuai PKS yang ada, tentunya sudah diputuskan bahwasanya MDR jelas menjadi tanggungan dari merchant. Hal ini harus dilakukan untuk menambah kenyamanan bertraksaksi dengan menggunakan kartu kredit.

    Kartu kredit memang digunakan utamanya yaitu untuk traksaksi murni retail, sesuai fungsi utamanya. Namun dikala keadaan yang sempit, gestun memang tidak ada salahnya dilakukan, tentunya cardholder akan dikenakan surcharge oleh merchant dan jelas itu menjadi kerugian dari cardholder itu sendiri.

    Itu yang saya ketahui siy mas. Masih sedikit yang saya ketahui tentang hal ini. Sama2 belajar ya

    Tks ^-^

  9. menurut saya,gestun memang harus di batasi maupun tidak di perbolehkan dlm kartu krediri.
    karena gampangannya, orang yg sering gestun ada yg beranggapan bahwa uang yg dia bayarkan adalah uangnya sendiri.
    mis : si A py cc,trus buat gestun. bln esoknya tagihan muncul dan dia byr lg sebesar uang yg ia pakai atau full payment. esoknya dia gestun lg sebesar pembyrnnya.
    dan pd kelamaan ia pasti py pemikiran kenapa hrs saya byr tagihan cc saya. yg makin lama menjadi pemikiran bahwa uang dr cc adlh uangnya sendiri. yg pola pemikiran spt itu pasti muncul.
    trus toh tagihan cc tdk dia byr saja gak mslh,krn tdk adanya jaminan apapun. hukum cc tdk ada yg dpt menarik/menyita sesuatu apapun.
    mk dr itu,hapus saja para pembuat gestun.
    kalau ada yg tersinggung,maaf dan terima kasih.
    kalau gak punya duit jgn gaya bikin kartu kredit lah.

    • Memang yang menjadi tolok ukur dari bank penerbit kartu kredit didalam membekukan kartu kredit yang sering melakukan gestun adalah polanya yang demikian. Mereka adalah pemakai kartu yang membayar full, namun beberapa waktu sebelumnya mengambil langkah gestun dengan maksud untuk melakukan full payment.

      Secara kasat mata kartu yang demikian bagus adanya. Kartunya aktif, ada pemakaian tiap bulan, bank mendapatkan interchange fee dan nasabah mendapatkan point reward. Secara pemikiran penulis, sebenarnya point reward yang mereka dapatkan adalah nilainya lebih kecil daripada fee yang mesti nasabah tanggung saat melakukan gestun. Namun entah mengapa sepertinya point begitu berharga dan menarik buat nasabah, sehingga mereka mau melakukan hal tersebut. Dan memang point itu benar dapat ditukar dengan barang2 yang disediakan oleh bank penerbit dengan cuma-cuma.

      Sesuai peraturan bank indonesia yang telah ditetapkan, sepertinya bank2 penerbit kartu di indonesia telah menjalankan kewajiban untuk menutup kartu2 bermasalah tersebut dengan baik. Walaupun hasilnya akan menurunkan NPL atau tidak, saya belum pernah mendapatkan leteraturnya.

      Tks

  10. yang saya lihat yang jadi masalah adalah aktifitas Dana talangannya, hal ini yang diinndikasikan oleh pihak bank sebagai kegiatan illegal, karena memperkaya pihak perseorangan, yang mana disini adalah pemilik gestun, karena perputaran dari satu rekening ke rekening lain…

    maaf masih awam, susah untuk berbicara

    bukan Gesek tunai nya :) yang saya lihat jadi masalah.

  11. Begini, bank itu baik talangan atau gestun juga akan selalu dapat untung, mdr dari mesin edc anggaplah mdr(potongan dari bank sebsar 2 persen, berarti ketika kartu digesek 10 juta, bank hanya akan mentransfer uang ke merchant sebesar 9.800.000(potong 2 persen utk mdr), seratus ribu(1 persen untuk visa or master), sisanya dibagi antara bank penerbit mesin dan penerbit kartu, itu sepuluh juta bagaimana kalo seratus juta atau satu miliar? Per hari seluruh transaksi di indonesia, plus pada akhir bulan pemegang kartu yg gesek 10 juta tadi ditagih full 10 juta tanpa potongan), nah rugi di mana?. Kredit macet? Saya pakai kartu saya berbelanja 10 TV di toko elektronik trus ga mau bayar juga kredit macet, saya party gila2an di club malam, trus ga mau bayar juga kredit macet, org yg gestun rata2 buat modal usaha, jadi mereka begitu dapet untung langsung bayar, karena berharap dapat memutar uang dari modal lagi(sama aja kayaa kta secara tidak langsung) Bank berpikirnya sok idealis padahal sama aja kaya lintah darat modern, ini kan bisnis,profit yang dicari bukan? Kalo takut kredit macet atau memberi hutang, jangan issued kartu kreditnya dari awal, gitu aja kok repot..

    • Itu semua kan PBI mas, jadi mengikat ke semua bank. Namun BI melakukan langkah seperti itu tentunya dengan alasan yang memang selayaknya gestun untuk dilarang.

      Bisa saja dari penelitian yang dilakukan oleh BI terhadap portofolio kartu yang delinquent didapatkan dari mereka-mereka yang sering melakukan transaksi gestun. Dimana traksaksi jenis ini banyak dilakukan di toko2 handphone dan elektronik (4812) dan juga toko emas.

      Dan trend di setiap negara tentunya berbeda. Bisa saja gestun meningkatkan perekonomian di suatu negara, namun malah bisa jadi di negara lain praktik gestun justru semakin menggelembungkan nilai NPL di perbankan negara itu.

      Sampai BI masih memberlakukan PBI no 11 tahun 2009 tersebut, sepatutnya sebagai pemilik kartu yang baik kita wajib mengindahkannya.

  12. Habis bank nggak jujur sih…masak kalo kita bayar minimum bunganya dihitung dari awal kita gesek lagi utk tagihan berikutnya..harusnya bunganya dihitung dari selisih jumlah yg digesek dikurangi jumlah yg kita bayar walaupun yg kita bayar minimum payment…saya terbantu dg adanya gestun…usaha saya jadi lancar…

    • Wah mas beng salah tuh. Bunga kartu kredit dihitung begini.
      1. kalau membayar minimum payment dihitung selisihnya setelah adanya payment, dan memang sebelumnya dihitung total dari total transaksi. Bunga kartu kredit kan sistemnya memang harian, jadi mesti terima konsekuensinya.
      2. kalau full payment baru bunga ditiadakan
      3. kalau gestun membantu itu pasti, gw yang orang bank juga setuju, tapi menghindari praktik sedemikian.

      ^-^

  13. tenang aja buat merchant2, ga usah khawatir kalo mesin2 pada ditarik ama BI. ntar 2 minggu kmudian jg dateng lagi.. ( dng nama merchatn yg berbeda tentunya )… Bank2 penerbit mesin edisi jg butuh duit kale!!! bgitu pula dengan vendor2 pembuat mesin edc & VISA/MASTER company. jadi wajar aja kalo profit gestun lebih gede daripada orang nabung/deposito yg cuma muter2in duit orang doank (buat bayar gaji karyawan, manajer sampe yg punya bank) sampe waktu duitny diambil lagi ama nasabah. jangn kaget kalo ada bank yg profit gestun via mesin edc nya bisa ampe 1 T setahun… inilah celah regulasi yang belum sempurna, ngurusin Century aja ga becus, msh mau ngurusin gestun2 bgini. yg pentingkan ga jual ganja, narkotik, vcd bajakan, ngejablay, ngegigolo ama jual kasus deh alias MARKUS…
    so.. don’t worry be happy 4 all cash advance players…
    ( until a new regulation has been done ) ^_^

    • Iya juga siy mas.

      Kalau boleh tahu bank mana itu yang profit gestunnya sampai 1T. Gede amat. Kalau profit gestun itu hanya 1,5% dari nilai traksaksi, berarti total traksaksi mencapai 66,66 trilliun donk. Wow fantastic..

      Yang saya pelajari dan amati dalam portofolio yang ada, ternyata memang meningkatnya praktik gestun berbanding lurus dengan proses rescheduling hutang. Itu artinya praktik gestun memang menindikasikan high risk transaction yang memang harus mulai dibatasi.

      ^_^

  14. Saya ditelpon sama Bank BII, mereka menawarkan pemotongan limit kartu kredit saya, lalu setelah dipotong mereka mentransfer uang ke rekening saya yang nantinya bisa dicicil dengan bunga berapa saya lupa, namun apa bedanya praktek ini sama gestun, mungkin tepatnya teltun(telepon tunai kale yah) hahahahahaha, tarik tunai di atm pun masi boleh kan? Ini semua juga meningkatkan npl lho, gene deh kalo gestun ga ada, pasti orang terpaksa tarik tunai di atm. Ataupun ikutin tawaran dari BII tadi kan? Nah ujung2nya NPL naik juga, nah dari sini yah mas2 sekalian, saya mau bilang bahwa lupakan data npl dan segalanya itu bullshit, itu alesan itu excuse, excuse buat apa? Bank ingin mempraktekkan gestun ini dengan untung yg lebih besar ke depannya, langkah awal mereka adalah mematikan kompetitor, yaiut pedagang gestun, itu aja kok motivasinya bukan apa2, inget dulu pas kredit kendaraan bermotor dipegang swasta, bank ga ada yg mau, begitu itu booming lihat sekarang apa yg bank lakukan, semua kredit pun ada, nah begitu juga dengan gestun, jadi guys baik gestun ini akan berlangsung atau stop, inget apa yg saya tulis ini, someday kalian akan lihat bank berpraktek gestun dengan cara mereka sendiri, mereka menamainya dengan istilah keren bukan gestun tapi Cash Advance Facility, kalo ini terjadi percayalah walaupun sama aja sama gestun yg sekarang, mereka tidak akan bilang NPL meningkat, mereka akan membohongi publik lagi dengan angka2 yg seolah2 aman sejak gestun tidaak ada, padahal merekalah pemain gestun baru, itulah monopoli bank alias si lintah darat modern

  15. Hahahaha.. malahan baru tahu saya mas ada produk bank seperti itu. Legal ngga ya teltun itu, udah persetujuan BI belum ya.

    Sebenarnya begini mas. Yang pertama, penggunakaan kartu kredit adalah untuk belanja retail. Dalam hal ini kita pasti sepakat, dan ngga ada perselisihan. Yang kedua, yaitu untuk tarik tunai di ATM, atau cabang bank manapun, dan kita juga menyepakatinya. Tapi yang ketiga yaitu gestun, itu diluar koridor yang ada. Dan jelas bank dirugikan dari aktifitas itu.

    1. Bunga yang dibebankan ke CH rendah (karena masuk trx retail)
    2. Bank tidak mendapatkan fee dari trx itu.

    Itu sebenarnya permasalahannya. Dan kita tahu pembuat kebijakan itu adalah bank central di indonesia yang tidak lain adalah BI. Kalau dilihat dari kebijakan ini jelas BI lebih berpihak kepada perbankan kita daripada CH dari kartu itu sendiri. Dibuat seperti ini apa karena sistem ekonomi kita sekarang menganut paham neo-liberal seperti yang kita khawatirkan sekarang ini. Hahahahah

    Saya pribadi ngga mau masuk terlalu dalam. Dalam hal ini saya hanya bisa menekankan bahwasanya mungkin perlu keteraturan dari pemakaian kartu kredit di indonesia, yaitu supaya transaksi-traksaksi yang dilakukan bersifat sehat dan sewajarnya.

    Dari literatur yang saya baca telah 400 merchant di indonesia dibekukan traksaksi elektroniknya dari beberapa bank yang berbeda. Dan hasilnya kita lihat bersama kedepannya^-^

  16. Kalau saya buat aturan, di rumah saya misalnya, dilarang merokok, ow orang langsung mengerti bahwa saya tidak mau kena asap rokok, dilarang masuk menggunakan alas kaki, mungkin orang bisa mengerti kalo saya tidak suka kotor, tapi begitu saya buat aturan kalau masuk harus pake kaki kiri dulu, kaki kanan ga boleh duluan, orang mulai mempertanyakan kebijakan saya tadi, hah? Kenapa? Udah gila yah? Atau jangan2 saya cuma cari2 alesan biar ga ada yg bole masuk ke rumah saya, karena saya ga suka tamu, maunya sendirian, begitu juga yg dilakukan bank mentang2 mereka yg buat aturan yah mereka sendiri juga suka2 buat aturan, agar bisa monopoli, ga ada yg rugi bos, bank meletakkan mesin edc di toko seseorang pasti ada alesannya, masa cuma berbaik hati untuk taro mesin gratis, no no no, mereka ada itungan bisnis dan mesin itu ditarget, berkisar dari 25 juta sampai 30 juta transaksi per bulan, kalau tidak kena denda(uda kaya marketing aja merchant, ada targetnya). Okelah kalo merchant sebagai marketing mesin edc tersebut dalam segi transaksi, yg target 30 juta sebulan, eh bisa menghasilkan 1 miliar sebulan, wow, menurut anda, bank akan senang, atau rugi? 30 juta aja dia sudah senang apalagi 1 miliar, mereka makan 2 persen, kalo hypermarket besar seperti carefour dikasi mesin tarolah mereka buat 100 juta per bulan penggesekan mesin, sementara merchant gestun 1 miliar, menurut anda kalo anda si bos yg pemberi target, anak buah mana yg akan anda anak emaskan? Npl naik? Kalo si carefour tadi anda bayar 100 juta sebulan, eh ternyata ada pemegang kartu yg belanja di carefour menunggak dan besarnya 20 juta total, apa carefournya salah? Begitu juga dengan gestun, kalo ada yg menunggak apa gestunnya salah?, bagi bank mereka membayar carefour 100 juta dan membayar merchant gestun seratus juta sama aja rasanya, ga rugi, nanti bakal ditagihkan ke pemegang kartu,mereka perlu pusing apakah si carefour menjual tivi, hape, beras atau apa saja, bukan urusan bank, itu urusan internal carefour, yg bank perlu tau settlement si carefour ini ada berapa ratus juta dipotong mdr(2 persen misalnya), sama juga ama gestun bank ga perlu pusing si gestun ini bekerja mati2an seperti apa, punya modal berapa utk gestun, yg penting settlementnya sekian potong 2 persen untuk mdr, semakin besar ya semakin bagus, berarti penghasilan dari mdr semakin besar juga. Kan itu bisnisnya.masa sih, anda kalau punya marketing yg bisa melebihi target jauh, dan membuat perusahaan anda untung, anda sia2 kan?, lalu tiba2 customer yg dilobi sama marketing anda tadi tiba2 ga lancar pembayarannya, masa marketing anda langsung dipecat? Yg salah customernya, anggap dia punya 100 customers, 10 bermasalah, masa anda precat marketing anda, yg sudah menghasilkan uang banyak ke perusahaan anda? Ini kan bodoh namanya, aturan itu dibuaat bukan karena merugikan, karena monopoli dan suka2 jidatnya bank saja, ini bukan narkoba, bukan pemalsu, bukan prostitusi, ini dagang, memberikan apa yg menjadi hak penggesek, dan mengambil keuntungan dari gesekan itu( selama tidak ada penipuan ya ga masalah), sama aja kok

  17. Wahhhh menarik juga fenomena gestun ini, saya bukan pemain kartu kredit, atau pemain gestun, bukan juga pemakai
    kartu kredit serius (kalo utang di kartu mah ada…), saya hanya pengamat dunia perbankan saja (mudah2an bisa netral), saya memandang perbankan sebagai lembaga keuangan dan lembaga hutang yang legal, menurut saya;

    1. Saya setuju dengan logika bung Ricky, “everybody happy” tdk ada pihak yang dirugikan, maka biarkan bisnis berjalan (tidak ada delik aduan apapun disitu, kalo perlu BI kita issued pihak yang wan-prestasi terhadap bisnis yg sudah berjalan)

    2. Setahu saya selama berkecimpung di perbank-an, untuk urusan gestun hampir semua bank penerbit tidak pernah ribut (cuek saja, yang penting pemegang kartu tidak melaporkan sebagai credit-card abuse), kalo pun dulu ada yang ribut adalah G#**$, karena lembaga ini bukan pihak penerbit langsung, tapi pihak penerbit ketiga (tapi cuma tahan 2 tahun, sudah itu akhir nya boleh juga ….he…he…)

    Yang kebakaran jenggot justru adalah pihak BI (entah kenapa….isunya setelah dijabat oleh gubernur baru yang nota bene kita sendiri tahu dari bank mana….tanya kenapa ????). Memang ada hitung2an prosentase surcharge dengan lembaga penjamin kartu (master/visa), yang katanya akan lebih banyak menguntungkan penjamin, tapi kan harus nya skenario itu sudah dipikirkan oleh BI dengan baik sebelumnya.

    3. Dalam clausa perjanjian pemegang kartu kredit (mari kita cermati sama-sama) tidak disebutkan pembatasan pemakaian tidak boleh dipergunakan untuk gestun(atau hal sejenisnya), maka secara class-action kita bisa menuntut bersama-sama bank penerbit telah melakukan pelanggaran perjanjian (mudah2an kalo di pengadilan menang, kartu dikembalikan tanpa harus membayar hutangnya…ngarep….he…he….)

    4. dan saya tidak pernah melihat juga ada perjanjian yang sejenis yang diperjanjikan juga kepada toko/tempat usaha/lembaga yang di titipkan mesin EDC (atau mungkin saya tidak tahu ….soalnya saya belum pernah punya toko yang dititipkan EDC)

    5. Ini yang aneh…., sementara ada ancaman kartu-kartu pemakai gestun mau ditarik, marketing kartu malah edan-edan an (saya saja sehari sampai dapat tawaran 3-4 kali), bahkan sampai ada promosi tanpa iuran se-umur hidup (hebat…).

    6. Untuk kartu yang di setujui,Bank bersedia mengeluarkan komisi lebih besar untuk agen marketing kartu 3 tahun belakang an ini dari pada tahun-tahun sebelumnya, (ada apa nih ….. cukup absurb…..)

    7. Ada beberapa bank yang nakal (kadang terpepet….), capital untuk pinjaman KPR dilarikan untuk pinjaman kartu kredit, bandingkan saja…. KPR paling tinggi 11,5% dengan jangka yang panjang, sementara surcharge kartu saja perbulan paling kecil 1,3%, belum bunga kartu kredit 3,4% – 4% perbulan (siapa yang tidak tergiur….coba hitung dengan spread deposito, kayanya akan lebih tergiur lagi…. maka nya jangan heran kalo pinjaman KPR agak ogah-ogah an tidak segencar pinjaman kartu…)

    8. Ini yang paling menarik…., syahdan bank-bank luar negeri(terutama malaysia) tertarik dengan bank-bank di Indonesia bukan karena profile nya yang tangguh-tangguh, tapi karena profile pemakai pinjaman kartu kredit, bayangkan dalam 2-3thn capital mereka sudah bisa balik modal dari profile pinjaman kartu kredit (bandingkan dengan bunga di negeri asal nya).

    masih ingat bagaimana jor-joran nya Bank HS### memberikan kredit limit kepada pemegang kartu, dan bahkan ada lembaga keuangan (bukan bank loh….) yang setelah bank asing masuk di paksa untuk berjualan kartu kredit, ha…ha…..

    dan bayangkan juga profile pemegang kartu kredit kita, menurut data AKKI (dan akhirnya lembaga ini bukan melindungi kepentinga pemegang kartu, tapi malah bekerjasama dengan BI he..he…) sampai akhir thn 2009 baru ada 11juta pemegang kartu kredit di Indonesia, yang artinya baru 0,05% dari seluruh jumlah rakyat Indonesia (Hmmmm…….)

    9. Pertumbuhan ekonomi kita yang telah di klaim pemerintah adalah naik sebesar 4,5%, disumbang dari sektor kebutuhan rumah tangga /komersial dan investasi (jangan-jangan kebutuhan RT=pemakaian kartu kredit, investasi=pinjaman kartu kredit, dan itu semua mungkin berasal dari bisnis gestun, perlu penelitian lebih jauh …..)

    10. Dan akhirnya yang jadi korban tetap rakyat kecil kembali (baca pemegang kartu=rakyat kecil), BI sebagai wakil pemerintah dan regulator, masih belum bisa memihak pada rakyat kecil, tetap membela segelintir pihak yang berduit.

    • Point pentingnya adalah nomor sepuluh.

      Pemerintahlah yang harus bertanggung jawab terhadap penderitaan rakyat kecil sekarang ini. Mungkin mereka yang 60% memilih presiden incumbent ini pada menyesal, apa yang mereka harapkan terhadap pemimpinnya itu sampai hari ini tiada hasil yang menjanjikan.

      Korupsi semakin merajalela, BI mengeluarkan peraturan yang tidak substantif membantu warga kelas bawah, dan perhitungan angka pertumbuhan ekonomi yang salah, hanya berdasarkan perputaran uang di pasar modal dll.

      Tidak banyak tahu siy masalah ekonomi, namun jelas Indonesia telah tertinggal jauh dari China dan india. ^-^

  18. hemm….menarik melihat perbincangan di atas…sy sendiri pmgang cc salah satu bank..yg tdk bs melakukan gestun…..jujur sih mengesalkan jg…percuma klo limit besar tpi cuman dipakai buat keprluan dapur sj yg klo di rupiah kan cuman beberapa ratus ribu sj (utk itungan sy pribadi) trus usaha sy kan bidang konveksi klo belanja bahan ga semua toko yg jual nerima kartu visa….nah ini yg jd pertanyaan…waktu dl bikin cc udah jelas2x alasan sy bikin buat nambah modal usaha..tpi klo ga semua toko bahan bs bayar pk visa ya gmn? akhirna back to basic deh bayar cash…trus pin cc udah 6 bulan tdk diterbitkan jg…jd sptinya pihak bank harus lebih wise…lebih mempermudah bg user cc nya krn dsr nya kan saling kepercayaan.

    • Aku tahu kartu kredit mas kog. Tenang aja mas, nanti setelah 2 tahun keanggotaan mas pasti bisa gestun. Gunakan gestun sewajarnya. Karena merchant pasti minta fee paling ngga 3% kan?

  19. Om… saya mo belanja banyak di pasar sama toko material nih! mo beli sayur, tempe, tahu sama daging…, trus mo beli pasir setruk juga di toko material… ampe belasan juta!
    tapi sayangnya mereka pada gak punya edc sih…

    jadinya saya gestun dulu di merchant yang mau berbaik hati buat tempat gesek kartu kredit saya trus baru deh belanja tahu tempe sama pasir pake tuh duit dari gestun…

    nah… sama aja kan… hehehe, transaksi retail juga…
    ntar juga saya bayar kok tuh utang! gak bakal nunggak kok…

    sip hidup gestun!

  20. Gestun di charge 2.3%. Pemakaian bisa 45 hari. Cara gesek. Sehari setelah tanggal cetak. Dan bayar di bulan depan waktu jatuh tempo.
    Apabila kita hitung point reward yg di berikan bank. Mis 10.000 = 1 point reward. Dan 1000 point dapat voucher carrefour 50.000. Maka bisa kita hitung gesek 10.000.000 dapat voucher 50.000. Sehingga 50.000/10.000.000=0.5%
    Sehingga gesek tunai 2.3 % – 0.5 % = 1.8 %
    (Memang ada bank pakai point. Ada yg tidak. Tapi 80% memakai point reward)
    Nah 1.8% / 45 hari * 30= 1.2 % per bulan atau 14.4 per tahun
    Sekarang kita bandingkan dengan bunga pinjaman bank yg menggunakan jaminan. Untuk saat januari 2011. Berkisar 12 – 14%.
    Nah ternyata bunga gesek tunai dan bunga pinjaman sama. Ngapain pake pinjaman dengan jaminan. Kalo ada dana dengan bunga yang hampir sama. Namun tanpa jaminan

  21. Bank itu benar2 lintah darat>bayangkan tela 1 hari aj ud kena denda yg sangat besar> dengan adanya gestun membantu say utuk kembangkan usaha saya> dulu saya takut dengan ke hidupan saya, tak berani usaha,karna tak punya modal.Dengan gestu saya punya modal dan bisa menghidupan ratusan pekerja saya.

  22. Jangan takut dengan ancaman hati-hati bagi yang sering gestun, Asalkan bulan ini gestun dan bulan depan lunas jangan takut.
    Mau diblockir atau apapun biarin tapi kalau blockir sepihak tanpa pemberitahuan di depan JANGAN DIBAYAR…!

    Tapi kalau gestun dan belum lunas gestun lagi dan lagi kalau itu saya ndak tahu and nggak level… alias gali lobang tutup lobang jangan seperti itu.

  23. JANGAN TAKUT GESTUN,INGAT KARTU KREDIT TIAP TAHUN BAYAR IURAN KENAPA MESTI GESTUN DILARANG…. GOMBAL ANJING PERATURAN…. YANG PENTING HUTANG BAYAR JANGAN NGEMPLANG ITU SAJA MASUKAN DARI INGSUN ORANG BI BANYAK YANG KORUPSI RAKYAT KECIL GESTUN NDAK BOLEH HAJAR SAJA…

  24. Solusi tepat bagi BI untuk memberantas praktek GESTUN sebetulnya sangat sederhana dan mudah saja, tarik tunai melalui Bank atau ATM bikin bunganya jangan tinggi-tinggi pasang 2% pasti pratek Gestun akan rampung mati dengan sendirinya kalau usul gue keberatan yang jangan banyak bacot tuh BI.
    Aturan keluarin yang banyak sampai matipun Gestun akan terus tumbuh dan kalau sangsi untuk merchant trus ditutup itu menangnya sendiri kalau itu terjadi pratek Gestun aku dukung biar BI ada kerjaan.
    Ingat pertahun untuk kartu Gold saja iuran 300 ribu kalau pakai tak bebas ya rugi.
    Sekali lagi buat orang BI yang baca harap dipertimbangkan usul ini juga nggak salahkan dari pada main kucing-kucingan, makanya pasang bunga jangan 4% andai diganti 2% saja sudah lebih dari untung dasar.

  25. Mas beng benar mas Habib, bunga kartu kredit itu bukan dari selisih yang sudah dibayar namun dari total tagihan walaupun sisa yang belum terbayar itu hanya 1 rupiah, dan hitungannya dari jumlah hari awal transaksi, jadi jika beberapa bulan tidak full walaupun kurang sedikit maka bunga akan berulang-ulang dihitung dari sekian bulan awal transaksi untuk seluruh transaksi bukan hanya dari transaksi yang belum dibayar, memang bank curang dalam hal ini.

  26. alah….gitu aja koq repot,aq sangat setuju 10000000% ma maz ricki,aq punya 4 cc bank dari pnerbit yg berbeda,tp dgn gestun……sangat membantu sekali,gestun jauh lbih ok dr pada tarik tunai via ATM,kartu kredit itu adalah hutang tanpa jaminan,klu kita punya cc kmudian kita mau naikin limit,yg biasanya jd pnilaian analis….selain kredibilitas(ketepatan membayar) adalah juga di nilai pola pemakaian kita,klu kita sering tarik tunai via ATM pasti bank akan sulit untuk menaikkan limit kita…..padahal bunga tarik via atm itu tinggi,ya mending gestun donk,toh sama aja,bedanya klu di ATM struk kita adalah tarik tunai dengan bunga yg tinggi,sedangkan kalau gestun,kita dpt struk layaknya org belanja,tapi di rupakan duit bkn barang,dah gitu…..klu mau naik limit jg gampang….lawong kita pakeknya secara berkala n selalu byar full payment……..so…..lawong sama2 ngutangnya….yg penting kan kita bayar dan tepat waktu……bank…jangan egois…..

  27. menurut saya gestun sama alat pembayaran kan sama ja..Bank Indonesia cuma melihat sebelah pihak.Belum tentu orang yang gestun gak sanggup bayar tagihan kartu kreditnya.Orang melakukan gestun kan bisa aja kalau tempat konsumen mau belanja tidak menyediakan mesin gesek.

  28. Spot on with this write-up, I really believe that this web site needs a
    lot more attention. I’ll probably be returning to see more, thanks for the advice!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s